Empat Novel Klasik Besar - Cermin Empat Sisi Orang Tiongkok

Penjual buku di dinasti Ming adalah yang pertama menyebut istilah “empat buku mahakarya”. Beberapa puluh tahun terakhir ini populer istilah “empat novel klasik besar”. Novel kuno Tiongkok yang layak menyandang sebutan “novel terkenal” apakah hanya empat buku ini? Sebenarnya tidak. Rulin Waishi, Liaozhai Zhiyi, Niehai hua, dan masih banyak lagi, semuanya layak menyandang sebutan ini. Bedanya terletak pada kata “besar”. Empat novel klasik besar mewakili prestasi budaya tradisional Tiongkok di bidang novel yang paling tinggi, merupakan karya seni besar yang sejak dulu hingga kini paling dikenal, paling digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Empat novel ini bagaikan cermin dengan empat sisi, merefleksikan karakteristik budaya dan psikologi orang Tiongkok.

Hong Lou Meng (Dream of the Red Chamber) merefleksikan sisi eleganitas dan keluwesan orang Tiongkok

Hong Lou Meng menyerap cara ekspresi paling elegan dari orang Tiongkok, baik syair, puisi, lagu, maupun ode. Ia juga menggunakan berbagai aspek dari budaya klasik Tiongkok, seperti arsitektur, masakan, taman, dan lukisan. Ia penuh dengan eleganitas yang tak tercapai oleh novel biasa. Maka buku ini tidak hanya harus dilihat oleh orang yang terpelajar, Mao Zedong pernah menganjurkan jenderalnya Xu Shiyou agar membacanya juga.

Bagaimana orang luar Tiongkok memandang buku ini? Ketua Asosiasi Hong Lou Meng Wu Zuxiang pernah memberikan kuliah privat selama satu tahun tentang Hong Lou Meng kepada mahasiswa dari Rep. Ceko. Mahasiswa ini setelah menyelesaikan perkuliahan ini bertanya, “Mr. Wu, semua hal dalam Hong Lou Meng telah saya pahami, namun ada satu hal yang belum saya mengerti. Di dalam vila Da Guan Yuan ada begitu banyak barang berharga, mengapa Jia Baoyu dan Lin Daiyu tidak mengambilnya saja kemudian melarikan diri?”

Tidak hanya itu, profesor Universitas Shandong Ma Ruifang juga pernah memberi kuliah Hong Lou Meng kepada seorang mahasiswa Jepang. Ia membahas “yi mianmian jing ri yu sheng xiang“, mahasiswa itu tidak mengerti, bertanya, “Prof, Anda selalu mengatakan bahwa cinta antara Jia Baoyu dan Lin Daiyu tidak membuahkan hasil, merupakan sebuah tragedi. Tragedi di mananya? Anda lihat di bagian ini, Jia Baoyu dan Lin Daiyu bukankah sudah tidur bersama?”

Kenapa mahasiswa bisa menanyakan pertanyaan yang aneh seperti itu? Pada dasarnya, mereka tidak mengerti kisah cinta Jia Baoyu dan Lin Daiyu. Faktor utama ketidakmengertian mereka adalah mereka menggunakan kacamata orang biasa untuk melihat sikap hidup yang elegan. Kisah cinta dalam Hong Lou Meng begitu elegannya, hingga sampai pada tataran tanpa cela, bagaikan tulisan-tulisan dalam buku itu sendiri yang begitu indahnya. Tidak heran, pakar Hong Lou Meng Jiang Hesen berkata, Tiongkok boleh kehilangan Tembok Raksasa, tapi tidak boleh kehilangan Hong Lou Meng.

Shui Hu Zhuan (Water Margin) merefleksikan sisi ksatria orang Tiongkok

Yi zhe, yi ye. Dalam pandangan orang Tiongkok, menjalankan keadilan, berarti melakukan apa yang semestinya dilakukan. Ini tampak jelas dalam paruh pertama Shui Hu Zhuan, terutama dalam kisah Lu Zhishen, yang selalu tanpa segan menolong mereka yang ditimpa ketidakadilan.

Tang Junyi dalam buku Nilai Spiritual Budaya Tiongkok mengatakan, “semangat ksatria, berarti sungguh-sungguh melaksanakan keadilan, membela yang lemah, untuk menunjukkan kebenaran, dan pada akhirnya kembali pada kedamaian”, juga “mengembangkan keluwesan antar manusia, membuat kekaguman menyebar ke penjuru yang jauh.” Orang Tiongkok sangat menyanjung keadilan, orang yang benar dan adil selalu menjadi harapan dari zaman dulu hingga sekarang.

Musuh utama dari keadilan adalah uang. Wu Song membunuh harimau dengan tangan kosong, menunjukkan sebuah keberanian. Namun keadilan terwujud dalam sikapnya di hadapan harta. Saat itu, hakim kabupaten memutuskan memberi hadiah 1000 guan uang kepada Wu Song. Baik pejabat sipil maupun pejabat militer tertinggi pada dinasti Song, gaji per bulannya 300 guan. Wu Song bukanlah orang yang kaya, namun ia mendengar ada beberapa pemburu yang mendapat hukuman fisik karena tidak berhasil menyelesaikan tugas membunuh harimau. Wu Song pun memberikan 1000 guan miliknya kepada para pemburu itu. Sama halnya dengan tokoh-tokoh lain seperti Song Jiang, Chai Jin, Chao Gai, semua tidak mempedulikan uang, sangat dermawan dalam membantu orang. Orang minta bantuan, saya bantu; orang tidak minta bantuan, saya juga bantu.

Musuh besar lain dari keadilan adalah nafsu. Shui Hu Zhuan melukiskan godaan, ancaman dari kecantikan wanita. Namun para ksatria itu sama sekali tak ambil pusing, langsung bunuh. Ini tentunya berhubungan dengan prinsip nilai sang penulis novel, namun dalam aliran utama budaya tradisional Tiongkok, sifat ksatria pada dasarnya memang anti daya pikat wanita.

Xi You Ji (Journey to the West) merefleksikan sisi kepercayaan orang Tiongkok

Xi You Ji tidak menjunjung agama Budha. Bhiksu Xuanzang sesampainya di kuil Da Lei Yin untuk meminta kitab suci, dua orang asisten tetua Budha——A Nan dan Jia Ye menginginkan hadiah. Tidak ada? Maaf, hanya bisa mengambil kitab kosong. Xuanzang dan murid-murid melaporkan ke Tathagata. Tathagata berkata, “Dua hari yang lalu ada orang yang turun melaksanakan seremoni, lalu menerima tiga ember tiga liter beras emas. Kalian datang mengambil kitab suci, tentunya juga harus memberi sesuatu.” Ini tak ubahnya menggambarkan pimpinan Budha tertinggi sebagai seorang pedagang.

Xi You Ji juga tidak menjunjung agama Tao. Di dalamnya banyak siluman yang muncul dengan wujud pemuka agama Tao. Bahkan di antaranya ada pejabat tinggi agama negara yang arogan, menyalahgunakan sihir, merugikan masyarakat.

Dua agama besar ini dalam Xi You Ji diremehkan. Ini menunjukkan bahwa di dalam karakter nasional etnis Han, tidak ada kepercayaan yang tetap. Profesor Universitas Fudan, Qian Wenzhong mengatakan, etnis Han kurang memiliki rasa hormat kepada iman, mereka hanya percaya sesuatu yang mendatangkan kebaikan kepada mereka. Dari penokohan tiga murid Bhiksu Tang, dapat terlihat angan-angan etnis Han.

Bhiksu pasir melakukan semua pekerjaan berat, dan semua hal yang baik selalu ia terima paling akhir. Namun seorang yang jujur seperti ini tidak memiliki tempat di mata Bhiksu Tang. Sun Wukong memiliki kekuatan, namun bandel. Meski demikian dalam perjalanan mengambil kitab suci, harus mengandalkan dia untuk mengatasi kesulitan. Bagaimana mengatasi kebandelannya? Mantera kepala.

Zhu Bajie paling nyaman. Pikulan sudah dipikul oleh Bhiksu pasir, bagian berkelahi sudah dilakukan oleh Sun Wukong. Bhiksu Tang selamanya sangat mengampuni Zhu Bajie. Apa yang dikatakan Zhu Bajie, pada umumnya Bhiksu Tang selalu percaya. Orang yang malas dan rakus, licik dan egois seperti ini, malah disukai oleh atasan. Ini menunjukkan psikologi etnis Han yang sangat menginginkan gaya hidup seperti ini: tidak bertanggungjawab, tapi mendapat keuntungan.

San Guo Yanyi (Romance of the Three Kingdoms) merefleksikan sisi worldview orang Tiongkok

Para pendekar gunung Liang penuh dengan sifat kepahlawanan, sedangkan tokoh-tokoh Tiga Negara lebih menampilkan semacam “perasaaan terhadap urusan negara”. San Guo Yanyi tidak terlalu memperhatikan kehidupan sehari-hari, hubungan keluarga, etika dan moral. Misalnya Cao Cao punya berapa istri, keluarganya berasal dari mana, siapa menantu Guan Yu, apakah ia punya kakak adik, dan seterusnya. Luo Guanzhong tidak menulis semua itu. Ini karena ia lebih memperhatikan masalah negara dan masyarakat. Perhatian ini berhubungan erat dengan kelangsungan hidup dan perkembangan etnis Tionghoa.

Dari delapan buah inti buku Da Xue, inti yang tertinggi adalah negara bersatu. San Guo Yanyi menampilkan keinginan bersatu dari etnis Tionghoa, sebuah worldview untuk menuju perdamaian.

Dibanding peradaban-peradaban tua di dunia, peradaban Tiongkok tidak pernah terputus. Kenapa? San Guo Yanyi mengatakan, ini disebabkan etnis Tionghoa sejak awal telah membentuk psikologi untuk bersatu, menuju perdamaian bangsa. Psikologi ini sedemikian kuatnya, menjadikan tenaga pemersatu terbesar Tiongkok. Ribuan tahun ini, etnis Tionghoa tidak hanya sekali mengalami perpecahan, namun setiap kali terpecah, orang Tiongkok selalu dengan gigih dan dengan pengorbanan yang besar, kembali mewujudkan persatuan yang baru.

San Guo Yanyi menulis tentang kekacauan di bawah langit, bergabungnya para pahlawan, sehingga muncul Cao Cao, Liu Bei dan Sun Quan. Meski novel ini memperlakukan ketiga tokoh tersebut secara berbeda, yakni lebih menghormati Liu, mengantagoniskan Cao Cao, mengkritik Sun Quan. Namun novel ini sangat yakin dengan kesamaan ketiga pihak ini, yakni gigih menuju persatuan. Setelah negara terbagi menjadi tiga, mereka semua tidak merasa puas, semua ingin melanjutkan perjuangan menuju bersatunya negara. Bersatu merupakan konsensus orang Tiongkok, sejak awal telah terukir dalam tulang mereka, mengalir dalam darah mereka, dan tidak berubah sampai kapan pun.

Diterjemahkan dari 人民网

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *