Marga orang Tionghoa muncul pada masa masyarakat matriarkal. Pada masa…

Asal Mula Shio Ayam
Raja ayam suka menang sendiri, terus-menerus mengacau, berkelahi. Ketika Jade Emperor menetapkan shio, ia mempertimbangkan jasa-jasa para binatang terhadap umat manusia. Maka dengan sendirinya raja ayam pun tidak termasuk di dalamnya. Suatu hari, raja ayam melihat bahwa kuda sangat disukai manusia, ia menjadi iri hati. Ia pun bertanya kepada kuda, “Wahai kuda, bagaimana engkau bisa mendapatkan kegemilangan seperti sekarang ini?” Kuda menjawab, “Saya biasanya menggarap sawah, mengangkut barang, menjadi pasukan ujung tombak dalam peperangan, membuat banyak jasa bagi umat manusia. Tentu saya dicintai.” Raja ayam berkata, “Jika saya juga dapat menjadi shio, dan dihormati orang, tentu akan bagus sekali.” Kuda menasehati ayam, “Mendapatkan cinta umat manusia tidaklah sulit, asalkan engkau dapat mengamalkan kelebihanmu, bersungguh-sungguh dalam membantu manusia. Contohnya shio-shio yang lain, sapi membantu menggarap sawah, anjing menjaga rumah, babi memberikan dagingnya, naga menurunkan hujan. Engkau punya suara yang bagus, siapa tahu juga dapat berguna bagi manusia?”
Saat raja ayam kembali ke rumah, ia berpikir keras, akhirnya mendapatkan ide, yakni menggunakan suaranya untuk membangunkan orang-orang yang tertidur. Maka tiap pagi, raja ayam bangun pagi-pagi sekali, lalu mulai menyanyi, demi membangunkan manusia dari mimpi mereka. Manusia sangat berterimakasih kepadanya, dan memutuskan untuk merekomendasikan ayam sebagai salah satu shio.
Namun saat itu Jade Emperor menetapkan shio hanya berupa binatang yang berkaki empat, bukan jenis unggas. Maka hal ini membuat raja ayam sangat kuatir.
Raja ayam tak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Dalam mimpinya ia pergi mengunjungi istana langit, ke hadapan Jade Emperor. Ia menangis dan menceritakan jasanya dalam membangunkan umat manusia, namun tidak dimasukkan ke dalam daftar shio. Setelah bercerita, air matanya mengalir tak henti-henti. Jade Emperor berpikir, merasa bahwa jasa ayam memang besar. Maka ia memutuskan untuk mengubah aturan dalam shio, dan memberikan sekuntum bunga untuk disematkan di kepala ayam, sebagai lambang penghargaan.
Ketika raja ayam terbangun, ia mendapati di atas kepalanya ada sebuah bunga merah. Sehingga ia membawa bunga itu menemui empat raja langit. Empat raja langit mengenali bunga itu sebagai bunga merah Jade Emperor. Mereka pun mengizinkan ayam untuk mengikuti perlombaan menjadi shio. Sampai pada hari perlombaan shio, ayam dan anjing bangun bersamaan, berlomba berdampingan. Sampai di istana langit, ayam takut anjing akan mendahuluinya, maka ia berusaha sekuat tenaga untuk berada di depan. Anjing mengejar dengan cepat, namun ayam tak terkejar. Akhirnya ia berada di posisi di bawah ayam. Sejak saat itu, anjing bermusuhan dengan ayam. Begitu melihat ayam, ia langsung mengejarnya. Ini berlangsung hingga hari ini. Sedangkan ayam, hingga kini masih membangunkan manusia di pagi hari, dan di kepalanya mengenakan bunga merah.
(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)
Photo via Visual Hunt